December 13, 2015

Artikel Apresiasi Seni Murni SMA X

Hari ini Saya akan memberikan artikel mengenai Seni rupa Dengan judul yaitu "Artikel Apresiasi Seni Murni SMA X" Di artikel ini saya akan menjelaskan mengenai bab Apresiasi seni murni kelas 10 SMA, berikut adalah artikelnya untuk anda

Artikel Apresiasi Seni Murni SMA X
Artikel Apresiasi Seni Murni SMA X


Dalam kegiatan berapresiasi selalu diawali dengankegiatan mengamati, oleh arena itu kemampuan berapresiasi yang benar juga diawali dengan kegiatan mengamati yang benar pula. Dalam kegiatan mengamati seni diperlukan kemampuan memusatkan perhatian tinggi, perasaan yang cukup tajam, daya fantasi yang cukup tinggi, kepekaan menanggapi rangsangan hasil karya seni dan kemampuan menilai hasil hasil karya seni.

Pada dasarnya dalam melakukan pengamatan, manusia dapat secara langsung mengenal dunia nyata yang fisik, sebab dalam proses pengamatan terjadi kontak langsung antara manusia dengan kenyataan yang terdiri dari obyek fisik maupun kejadian kejadian yang nyata dan obyektif.

Menurut Suwaji Bastomi, proses pengamatan berlangsung 3 tahap, tahap tersebut ialah : 


1. Tahapan Fisis

Pada tahapan ini prosesnya baru sampai pada kegiatan melihat. Alat alat indera menerima rangsangan dari alam atau obyek.

2. Tahapan Fisionlogis

Pada tahapan ini ada suatu mata rantai yang menyalurkan perangsang yang diterima oleh alat indera melalui syaraf sampai ke otak.

3. Tahap Psikologis

Rangsangan dari luar telah sampai ke otak, kemudian ada reaksi dari otak sebagai aktifitas batin, sehingga pengamat mengenal obyek fisik yang diamati.



Semakin banyak orang dalam melakukan pengamatan pada sebuah karya seni semakin berbeda beda pula hasil pengamatan tersebut, oleh karena itu pengamatan terhadap karya seni sangatlah subyektif. Walaupun pengamatan dipengaruhi oleh alat indera dan faktor faktor sebyektif lainya, sehingga hasil pengamatan orang banyak akan berbeda beda, namun sifat nyata dari obyek fisik tidak akan berubah ubah baik keadaan maupun nilainya. Karena pengamatan orang banyak terhadap sebuah karya seni berbeda beda (subyektif), maka apresiasi pada karya seni tersebut juga berbeda beda.

Apresiasi pada sebuah karya seni bagi orang banyak akan mencapai kesamaan jika orang orang itu telah memiliki kemampuan pemahaman yang sama pada karya seni itu dan kritis dalam menentukan penilaiannya. Dalam hal ini pengalaman estetik banyak menentukan tingkat kemampuan berapresiasi bagi seseorang.

Apresiasi seseorang terhadap seni dikatakan benar dan mempunyai tingkatan cukup tinggi apabila telah mendekati kebenaran seperti nilai yang tertuang di dalam produk seni yang menjadi obyeknya.



Proses Apresiasi Berlangsung sebagai berikut :

Proses apresiasi berlangsung , terdapat kegiatan mengamati, menghayati, mengevaluasi, dan berapresiasi. 

1. Kegiatan mengamati

Pengamatan melakukan kegiatan ini sebagai reaksi terhadap rangsangan yang datang dari obyek. Kegiatan yang dilakukan oleh pengamatan merupakan observasi meneliti dan menganalisa, menilai obyek sehingga terjadi tanggapan tantang objek tersebut.

2. Kegiatan menghayati

Kegiatan ini penghayat mengadakan selesksi terhadap obyek, sehingga terjadi proses penyesuaian antara nilai yang terkandung di dalam obyek dengan hasil pengamatan yang dilakukan oleh penghayat. Pada tahap ini penghayat dapat menerima nilai nilai estetis yang terkandung di dalam obyek itu, tetapi ada kalanya penghayat menerimanya tanpa kesadaran dan tanpa kritik, sehingga seluruh obyek diterima sepenuhnya. Sikap emosional yang dialami penghayat seperti ini oleh Theodor Lipps disebut empathy 

 3. Kegiatan mengevaluasi

 Kegiatan mengevaluasi dapat dilakukan apabila pelakunya dapat mengukur bobot seni yang dievaluasi. Kemampuan mengukur bobot seni disertai kemampuan memberi kritik pada seni. Dalam hal ini kritikus mampu memisahkan antara yang baik dan yang tidak baik dengan sikap obyektif.

4. Kegiatan berapresiasi

Dalam kegiatan berapresiasi perasaan seseorang telah tergetar oleh seni dan hanyut bersama sama seni itu. Apresiator merasa bahwa dirinya berada di dalam karya itu, artinya ia seakan akan merasakan sendiri apa yang dirasakan oleh pencipta. Ia dapat memproyeksikan diri ke dalam bentuk hasil seni itu. Perasaanya ditentukan oleh apa yang ditemukan di dalamnya. Ia berada d antara sadar dan tidak sadar terhadap obyek yang dihayati. 

Kesadarannya diringi rasio untuk mengevaluasidan memberi kritik kepada seni itu, namun demikian rasio yang sadar itu tidak mengurangi rasa simpati, melainkan justru menambah. Jika menambah, jika demikian halnya, maka orang itu telah mempunyai apresiasi yang benar pada suatu hasil seni.



Trimakasih sekiana artikel saya dengan judul "Artikel Apresiasi Seni Murni SMA X" Semoga artikel yang saya berikan ini bermanfaat bagi anda. Mohon maaf jika ada kesalahan kata dari artikel yang kami berikan ini, trimakasih.

Berkomentar dengan sopan dan benar, trimakasih.